Trotolan, Bakalan, Ngebatman dan Istilah Murai Batu Lainnya

Selamat pagi para pecinta burung kicau, bagaimana kabar anda hari ini? Sudahkah anda memberi pakan dan memandikan burung kicau kesayangan? Semoga anda tidak lupa merawat burung kesayangan anda. Apakah ada di antara kalian tertarik dengan murai batu hutan? Atau anda sedang mencari bakalan murai batu untuk penangkaran? Sering kali kita mendengar beberapa istilah dalam dunia murai batu, seperti trotolan, ngebatman, bahan, full kroto, setengah jadi,  abangan. Berikut beberapa penjelasan beberapa istilah dalam murai batu tersebut.

 

Trotolan, Bakalan, Ngebatman dan Istilah Murai Batu Lainnya

Murai Batu Jambi

1. Murai Batu Abangan

Murai batu abangan merupakan jenis sebutan piyik untuk burung murai batu yang lagi menetas hingga berumur 6 hari. Mengapa dinamakan abangan? Usut punya usut nama tersebut merupakan nama acuan untuk jenis anakan burung yang baru lahir dan masih berwarna merah alias abang dalam translasi bahasa jawanya. Meski terlahir dengan warna hitam, peternak tetap menamainya murai batu abangan hingga berumur 5-6 hari. Para peternak piyik murai batu, biasanya membeli abangan dari penangkar pada umur satu sampai 6 hari dengan harga murai batu abangan yang bervariasi.

2. Trotolan Murai Batu

Trotolan merupakan sebutan untuk anak murai batu yang berumur diatas 12-14 hari atau sampai belum berganti bulu dewasa. Biasanya trotolan murai batu dibagian sayapnya terdapat bintik-bintik soklat dan cenderung berwarna hitam burik. Pada umumnya diusia 4-5 bulan, trotolan murai batu mulai berganti bulu ke bulu dewasa atau istilahnya mabung.

Trotolan murai batu ada juga yang merupakan hasil penangkaran seperti trotolan murai batu medan dan ada yang hasil tangkapan alam seperti trotolan murai batu muda hutan. Proses adapatasi dengan lingkungannya untuk trotolan lebih cepat, apalagi jika jenis trotolan murai batu hasil penangkaran, hasilnya akan lebih mudah diajari untuk makan voer.

3. Bakalan Murai Batu

Murai batu bakalan merupakan sebutan murai batu hasil tangkapan dari hutan. Bagi sebagian orang murai batu ini disebut juga dengan murai batu bahan. Jenis murai batu bahan membutuhkan waktu lebih lama dalam proses adaptasi dilingkungan barunya dibanding jenis murai batu trotolan. Umumnya bakalan murai batu heboh sendiri dan menabrak jeruji sangkar untuk mencoba keluar dari kandang. Resiko kematian yang tinggi dalam memelihara murai batu bahan nampaknya musti diperhatikan. Burung murai batu bakalan juga membutuhkan adaptasi dari kebiasaan terbang bebas di habitat aslinya ke dalam sangkar harian yang ruang terbangnya terbatas.

Kicauan bakalan murai batu umumnya terdengar pada waktu dini hari, ketika suasana lingkungan masih sepi dan tidak ada orang disekitarnya.

4. Murai Batu Setengah Jadi

Setengah jadi adalah sebutan untuk murai batu yang sudah terbiasa makan voer serta bisa beradaptasi dengan lingkungan dan sangkar harian. Meski masih takut terhadap kedatangan orang, namun lompatan dalam sangkar harian juga sudah teratur dan tidak menabrak jeruji sangkar.

Kicauan murai batu setengah jadi sudah rajin sudah rajin terdengat pada pagi hari, siang, dan sore hari. Dibutuhkan waktu yang lama dari piyik murai batu, bakalan hingga menjadi murai batu setengah jadi, tergantung cepat lambatnya murai batu tersebut beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.

5. Murai Batu Jadi

Berkicau tidak bergantung waktu serta tidak takut orang alias jinak, merupakan sebutan dari murai batu jadi. Ciri khas dari jenis ini adalah mengeluarkan suara kicauan dibarengi gerakannya yang atraktif jika didekatkan dengan murai jenis lainnya. Sifatnya yang latah kalau mendengar suara kicauan burung lain dan membalas kicauan burung lainnya menjadi nilai plus jenis murai batu ini.

6. Murai Batu Ngepur

Murai batu ngepur merupakan murai batu hutan dan sudah mulai diajari makan voer. Ciri khasnya adalah bentuk kotorannya yang padat dan menyerupai voer yang dimakannya. Perbedaannya terletak pada bentuk kotoran yang belum makan voer, akan cenderung encer berwarna putih. Selain itu juga tampak warna hitam seperti kroto atau jangkrik.

7. Murai Batu Full Kroto

Sesuai namanya, full kroto merupakan sebutan untuk murai batu yang tidak makan voer namun memakan kroto atau jangkrik. Alasan diberikannya kroto dan jangkrik agar stamina tubuh murai batu tetap baik dengan asupan kebutuhan protein dan vitamin yang terkandung didalamnya. Hal ini juga berdampak pada suara lantang dan keras yang dihasilkan murai batu jenis full kroto ini.

8. Murai Batu Ngebatman

Sebutan ngebatman merupakan jenis murai batu yang sedang diadu membuka setengah sayapnya dan turun didasar sangkar tanpa mengeluarkan bunyi. Belum selesainya masa mabung namun sudah diadu dengan jenis murai lainnya merupakan penyebab terjadinya murai batu ngebatman. Penyebab lainnya terjadi akibat over birahi, hal ini disebabkan kelebihan pakan alami seperti jangkrik dan kroto.

Semoga bermanfaat.